Kamis, 28 Juni 2012

Makalah Letak Lintang


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kehamilan dengan Kelainan Letak Lintang” Makalah ini disusun guna memenuhi tugas ASKEB IV.
Penyusun menyadari, makalah ini dapat terselesaikan bukan hanya karena kemampuan dan usaha penyusun sendiri tetapi juga bantuan dan bimbingan berbagai pihak.Penyusun juga menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari berbagai pihak sangat penulis harapkan. Akhirnya, harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat.  



                           Padang,      Jan 2012 


Penulis








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I             PENDAHULUAN
1.1               Latar Belakang
1.2               Tujuan
BAB II            TINJAUAN TEORI
2.1 Defenisi
2.2 Etiologi
2.3 Diagnosis
2.4 Proses Persalinan
2.5 Komplikasi
2.6 Penatalaksanaan
2.7 Prognosis
2.8 Manajemen
BAB III          PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain.Letak lintang merupakan salah satu malpresentasi janin yang dapat menyebabkan kelambatan atau kesulitan dalam persalinan. Letak lintang merupakan keadaan yang berbahaya karena besarnya kemungkinan risiko kegawatdaruratan pada proses persalinan baik pada ibu maupun janin.
Pada penelitian yang dilakukan di RSUP Dr.Pirngadi, Medan dilaporkan angka kejadian letak lintang sebesar 0,6 %; RS Hasan Sadikin bandung 1,9 %; RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut angka 0,3 % dan Holland 0,5-0,6 %.
Bila persalinan letak lintang dibiarkan tanpa pertolongan akan dapat menyebabkan kematian baik pada ibu maupun janin. Ruptur uteri, perdarahan dan infeksi berakibat fatal bagi ibu sedangkan pada janin bisa terjadi prolapsus umbilikus, asfiksia hingga berlanjut pada kematian janin.
Letak lintang terjadi rata-rata pada 1 dari 322 kelahiran tunggal (0,3%) baik di Mayo Clinic maupun di University of Iowa Hospital (Cruikshank dan White, 1973; Johnson, 1964). Di Parkland Hospital, dijumpai letak lintang pada 1 dari 335 janin tunggal yang lahir selama lebih dari 4 tahun. Janin letak lintang seringkali ditemukan dengan pemeriksaan USG pada awal gestasi. Angka kejadian meningkat jika janinnya prematur.
Beberapa Rumah sakit di Indonesia melaporkan angka kejadian letak lintang, antara lain: RSUP Dr.Pirngadi, Medan 0,6 %; RS Hasan Sadikin Bandung 1,9 %; RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut angka 0,3 % dan Holland 0,5-0,6 %.
Sehingga dengan adanya insidensi letak lintang yang cukup tinggi sebagai tanaga kesehatan khususnya bidan haruslah mengetahui seluk beluk dari letak lintang tersebut sehingga dapat mendeteksi lebih dini jika terjadi kelainan letak lintang.
1.2 Tujuan
            - Untuk mengidentifikasi kelainan letak janin pada kehamilan,
            - Untuk menghindari atau melakukan penanganan lebih dini kasus kelainan letak,






















BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1  Definisi
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior), di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior).
2.2  Etiologi
Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. Kelainan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa, selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda, polihidramnion, abnormalitas uterus, pengkerutan pelvis, fibroid uterus yang besar.
2.3  Diagnosis
·         Inspeksi
o   Perut membuncit ke samping
·         Palpasi
o   Fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan
o   Fundus uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke dalam pintu atas panggul
o   Kepala (ballotement) teraba di kanan atau di kiri
·         Auskultasi
o   Denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.
·         Pemeriksaan dalam (vaginal toucher)
o   Teraba tulang iga, skapula, dan kalau tangan menumbung teraba tangan. Untuk     menentukan tangan kanan atau kiri lakukan dengan cara bersalaman.
o   Teraba bahu dan ketiak yang bisa menutup ke kanan atau ke kiri. Bila kepala terletak di kiri, ketiak menutup ke kiri.
o   Letak punggung ditentukan dengan adanya skapula, letak dada dengan klavikula.
o   Pemeriksaan dalam agak sukar dilakukan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun pada letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.

2.4  Proses Persalinan
Setelah ketuban pecah, jika persalinan berlanjut, bahu janin akan dipaksa masuk ke dalam panggul dan tangan yang sesuai sering menumbung. Setelah terjadi sedikit penurunan, bahu tertahan oleh tepi atas panggul, dengan kepala di salah satu fossa iliaca dan bokong pada fossa iliaca yang lain. Bila proses persalinan berlanjut, bahu akan terjepit kuat di bagian atas panggul. Uterus kemudian berkontraksi dengan kuat dalam upayanya yang sia-sia untuk mengatasi halangan tersebut. Setelah beberapa saat, akan terbentuk cincin retraksi yang semakin lama semakin meninggi dan semakin nyata. Keadaan ini disebut sebagai letak lintang kasep. Jika tidak cepat ditangani dengan benar, uterus akhirnya akan mengalami ruptur dan baik ibu maupun bayi dapat meninggal.
Bila janin amat kecil (biasanya kurang dari 800 gram) dan panggul sangat lebar, persalinan spontan dapat terjadi meskipun kelainan tesebut menetap. Janin akan tertekan dengan kepala terdorong ke abdomen. Bagian dinding dada di bawah bahu kemudian menjadi bagian yang paling bergantung dan tampak di vulva. Kepala dan dada kemudian melewati rongga panggul secara bersamaan, dan bayi dapat dikeluarkan dalam keadaan terlipat (conduplicati corpore)
2.5  Komplikasi
Letak lintang merupakan keadaan malpresentasi yang paling berat dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi pada ibu dan janin. Komplikasi akan bertambah berat jika kasus letak lintang telambat didiagnosa. Pada ibu, dapat terjadi dehidrasi, pireksia, sepsis, perdarahan antepartum, perdarahan pos partum, ruptur uteri, kerusakan organ abdominal hingga kematian ibu. Pada janin, dapat terjadi prematuritas, bayi lahir dengan apgar skor yang rendah, prolapsus umbilikus, maserasi, asfiksia hingga kematian janin .

2.6  Penatalaksanaan
Apabila pada pemeriksaan antenatal ditemukan letak lintang, sebaiknya diusahakan menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Sebelum melakukan versi luar harus dilakukan pemeriksaan teliti ada atau tidaknya panggul sempit, tumor dalam panggul, atau plasenta previa, sebab dapat membahayakan janin dan meskipun versi luar berhasil, janin mungkin akan memutar kembali. Untuk mencegah janin memutar kembali, ibu dianjurkan menggunakan korset dan dilakukan pemeriksaan antenatal ulangan untuk menilai letak janin. Ibu diharuskan masuk rumah sakit lebih dini pada permulaan persalinan, sehingga apabila terjadi perubahan letak, segera dapat ditentukan prognosis dan penanganannya. Pada permulaan persalinan, masih dapat diusahakan mengubah letak lintang janin menjadi presentasi kepala asalkan pembukaan masih kurang dari 4 cm dan ketuban belum pecah.
Pada primigravida, jika versi luar tidak berhasil sebaiknya segera dilakukan seksio sesaria. Sikap ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1.      Bahu tidak dapat melakukan dilatasi pada serviks dengan baik, sehingga pada primigravida kala I menjadi lama dan pembukaan serviks sukar menjadi lengkap
2.      Karena tidak ada bagian besar janin yang menahan tekanan intra-uterin pada waktu his, maka lebih sering terjadi ketuban pecah sebelum pembukaan serviks sempurna dan dapat mengakibatkan terjadinya prolapsus funikuli
3.      Pada primigravida versi ekstraksi sulit dilakukan.
Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara bergantung kepada beberapa faktor. Apabila riwayat obstetri yang bersangkutan baik, tidak didapat kesempitan panggul, dan janin tidak seberapa besar, dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan lengkap untuk melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu harus diusahakan supaya ketuban tetap utuh dan melarang ibu meneran atau bangun. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan terdapat prolapsus funikuli, harus segera dilakukan seksio sesaria. Jika ketuban pecah, tetapi tidak ada prolapsus funikuli, maka bergantung tekanan dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan dengan seksio sesaria. Dalam hal ini, persalinan dapat diawasi untuk beberapa waktu guna mengetahui apakah pembukaan terjadi dengan lancar atau tidak. Versi ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar, apabila setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang.
Pada letak lintang kasep, bagian janin terendah tidak dapat didorong ke atas, dan tangan pemeriksa yang dimasukkan ke dalam uterus tertekan antara tubuh janin dan dinding uterus. Demikian pula ditemukan lingkaran Bandl yang tinggi. Berhubung adanya bahaya ruptur uteri, letak lintang kasep merupakan kontraindikasi mutlak melakukan versi ekstraksi. Bila janin masih hidup, hendaknya dilakukan seksio sesaria dengan segera
Versi dalam merupakan alternatif lain pada kasus letak lintang. Versi dalam merupakan metode dimana salah satu tangan penolong masuk melalui serviks yang telah membuka dan menarik salah satu atau kedua tungkai janin ke arah bawah. Umumnya versi dalam dilakukan pada kasus janin letak lintang yang telah meninggal di dalam kandungan dengan pembukaan serviks lengkap. Namun, dalam keadaan tertentu, misalnya pada daerah-daerah terpencil, jika dilakukan oleh penolong yang kompeten dan berpengalaman, versi dalam dapat dilakukan untuk kasus janin letak lintang yang masih hidup untuk mengurangi risiko kematian ibu akibat ruptur uteri. Namun, pada kasus letak lintang dengan ruptur uteri mengancam, korioamnionitis dan risiko perdarahan akibat manipulasi uterus, maka pilihan utama tetaplah seksio sesaria.
2.7  Prognosis
Meskipun letak lintang dapat diubah menjadi presentasi kepala, tetapi kelainan-kelainan yang menyebabkan letak lintang, misalnya panggul sempit, tumor panggul dan plasenta previa, masih tetap dapat menimbulkan kelainan pada persalinan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian ibu dan janin pada letak lintang, disamping kemungkinan terjadinya letak lintang kasep dan ruptura uteri, juga sering akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma akibat versi ekstraksi untuk mengeluarkan janin.
Prognosis pada kehamilan letak lintang sangat dipengaruhi oleh riwayat pemeriksaan kehamilan, kecepatan penegakkan diagnosa dan sarana-prasarana kesehatan yang ada. Semakin lambat diagnosa letak lintang ditegakkan, maka kemungkinan bayi akan tetap berada dalam posisi lintang pada saat persalinan akan semakin besar. Sebagai perbandingan jika diagnosa dibuat pada UK 20-25 minggu, ± 2,6 % akan tetap pada posisi lintang dan jika diagnosa dibuat pada UK 36-40 minggu, ± 11,8 % akan tetap pada posisi lintang (4). Di negara dengan sarana-prasarana yang sudah maju, angka kematian ibu dan janin pada kasus letak lintang sudah cukup rendah. Namun, pada negara tertinggal, berbagai komplikasi masih terjadi akibat tidak adanya fasilitas seksio sesaria (10).
2.8  Manajemen
Langkah 1 : Pengkajian
      A.Data Subjektif
                      Data – Data yang dikumpulkan meliputi :
a.       Biodata / Identitas Klien dan Suami
Yang perlu dikaji : nama,umur,agama,suku,pendidikan,pekerjaan,dan alamat.
Maksud pertanyaan :  untuk mengenal dan membedakan klien yang satu dengan klien yang lainnya.
b.      Keluhan Utama
Merupakan alasan utama klien datang ke BPS atau RS dan apa saja keluhan yang dirasan oleh klien
 Kemungkinan yang ditemui :  klien mengeluh perut sebelah kiri sering terasa nyeri seperti ada tekanan dari dalam, dan bila diraba sedikit menonjol, sedangkan perutnya sebelah kanan sering terasa ada gerakan janin (ditendang-tendang).
c.       Riwayat Obstetri yang lalu
o    Kehamilan yang lalu : apakah klien pernah mengalami kehamilan letak lintang pada kehamilan sebelumnya.
          B.Data Objektif
a.       Keadaan umum
Untuk mengetahui tingkat kesadaran ibu.Dengan cara tersebut kita bisa melakukan KIE yang baik kepada ibu tersebut.
b.      Tanda Tanda Vital
Untuk memastikan kondisi umum ibu dalam keadaan baik.
c.       Abdomen
Untuk melakukan pemeriksaan kebidanan yaitu:
·         Inspeksi
Pemeriksaan tanda yang dilakukan secara head to toe yaitu:
·        Kebersihan kulit
·        Rambut
·        Muka
·        Mata: konjungtiva, sklera
·        Mulut: caries gigi, karang gigi
·      Leher: pembesaran kelenjer tiroid, pembengkakan kelenjer limfe
·      Payudara: keadaan puting susu menonjol atau tidak, kolostruum ada atau tidak
·      Perut: apakah membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah ada bekas luka operasi
·      Ekstremitas atas dan bawah apakah ada kelainan seperti varises, udem dan sianosis.
·      Vulva: apakah bersih, ada varises atau tidak, pengeluaran dari vagina.
·         Palpasi
Dengan menggunakan secara leopold, kemungkinan yang ditemukan adalah:
·        Leopold I
Tidak ada bagian yang teraba
·        Leopold II
Pada dinding perut ibu sebelah kiri teraba tonjolan tonjolan kecil kemungkinan ekstremitas janin,pada perut ibu sebelah kanan teraba  keras,bulat,kemungkinan kepala janin
·       Leopold III
Pada bagian terbawah perut ibu teraba kosong
·        Leopold IV
      Tidak dapat di lakukan.
v  Auskultasi
            Periksa dengar dilakukan untuk mengetahui bunyi jantung janin, frekuensi, teratur atau tidaknya dan mengetahui posisi punktum maksimum. DJJ (denyut jantung janin) paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.

v  Perkusi
Melakukan pemeriksaan ketuk pada reflek patela kiri dan kanan positif.
v  Pemeriksaan penunjang.
·         Pemeriksaan darah rutin glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah.
·         USG
Mengetahui kemungkinan janin hidup, intrauterine, tunggal, cairan hidramnion dan derajat kematangan plasenta.
·           Pemeriksaan foto rontgen, USG, dan Foto Sinar -X
Langkah II : Interprestasi Data Dasar
v  Diagnosa Kebidanan
1.      Ibu G...P...A...H...,Gravid 30-32 minggu,janin hidup,tunggal,  intrauterin,letak lintang,jalan lahir normal,KU Ibu baik,KU janin baik.
Dasar : 1. HPHT,riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu.
o   Palpasi: pemeriksaan Leopold di bagian bawah tidak ada bagian yang teraba,dan pada bagian fundus juga tidak ada bagian yang teraba,abdomen membuncit ke samping.
o   Auskultasi: DJJ (denyut jantung janin) paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.
o   Pemeriksaan foto rontgen, USG, dan Foto Sinar -X : bayangan kepala berada pada bagian kanan / kiri abdomen ibu
2.      Anamnesa
Kehamilan terlihat pada saat inspeksi perut ibu membuncit ke samping.
3.      Pemeriksaan luar
Dibagian bawah uterus tidak ada bagian yang teraba,kepala dan ekstremitas teraba pada sisi kanan atau kiri perut ibu.
v  Masalah 
o   Kemungkinan masalah yang timbul adalah kecemasan.
o   .Kurang pengetahuan tentang efek pembedahan dan perawatan selanjutnya berhubungan dengansalah dalam menafsirkan imformasi dan sumber imformasi yang kurang benar.

Dasar : Kehamilan dengan kelainan letak lintang.

v  Kebutuhan
o   Dukungan Psikology
 Dasar : Kehamilan yang memiliki kelainan letak lintang
o   Kebersihan vulva,terutama dalam proses persalinan
 Dasar :Pencegahan infeksi,dan rasa nyaman
o   Hidrasi
 Dasar : Pemenuhan kebutuhan cairan ibu
o   Rasa nyaman
 Dasar :ibu dalam proses kehamilan

Langkah III : Diagnosa potensial /Masalah potensial
Masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul dan bila tidak segera diatasi dapat mengganggu keselamatan hidup klien, maka masalah potensial harus diantisipasi, dicegah, diawasi dan dipersiapkan tindakan untuk mengatasi.
Pada ibu, dapat terjadi dehidrasi, pireksia, sepsis, perdarahan antepartum, perdarahan pos partum, ruptur uteri, kerusakan organ abdominal hingga kematian ibu.
Pada janin, dapat terjadi prematuritas, bayi lahir dengan apgar skor yang rendah, prolapsus umbilikus, maserasi, asfiksia hingga kematian janin .
Langkah IV : Tindakan segera
Tindakan segera pada ibu hamil dengan kelainan letak lintang adalah Kolaborasi dengan Dr.Obgyn atau merujuk.
Langkah V : Intervensi/perencanaan
Perencanan tindakan yang mungkin dilakukan pada ibu hamil dengan kelainan letak lintang antara lain :
o   Jelaskan kepada ibu tentang posisi janin ibu yang kemungkinan nya janin ibu letak nya melintang  berdasarkan pemeriksaan yang di lakukan
o   Berikan contoh dan anjurkan ibu untuk melakukan kneechest  atau posisi lutut dada ,setiap hari minimal 2kali sehari selama ±5menit ,untuk mengembalikan posisi bayi nya menjadi persentasi kepala.
o   Jelaskan kepada ibu tentang komplikasi  bagi  ibu dan  janin yang bisa di timbulkan dari kelainan letak lintang  dan akan ber hati-hati.
o   Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG (pada dokter ahli kebidanan yang lebih di tunjuk oleh bidan) untuk memastikan letak janin dan mengetahui  penyebab dari letak lintang.
o   Rujuk ibu ke dr.obgyn untuk penanganan selanjut nya.
o   Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada    keluhan.
Langkah VI : Pelaksanaan
o   Menjelaskan kepada ibu tentang posisi janin ibu yang kemungkinan nya janin ibu letak nya melintang  berdasarkan pemeriksaan yang di lakukan
o   Memberikan contoh dan menganjurkan ibu untuk melakukan kneechest  atau posisi lutut dada ,setiap hari minimal 2kali sehari selama ±5menit ,untuk mengembalikan posisi bayi nya menjadi persentasi kepala.
o   Menjelaskan kepada ibu tentang komplikasi  bagi  ibu dan  janin yang bisa di timbulkan dari kelainan letak lintang  dan akan ber hati-hati.
o   Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG (pada dokter ahli kebidanan yang lebih di tunjuk oleh bidan) untuk memastikan letak janin dan mengetahui  penyebab dari letak lintang.
o   Merujuk ibu ke dr.obgyn untuk penanganan selanjut nya.
o  Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan.
                                                                                              

BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain.Letak lintang merupakan salah satu malpresentasi janin yang dapat menyebabkan kelambatan atau kesulitan dalam persalinan. Letak lintang merupakan keadaan yang berbahaya karena besarnya kemungkinan risiko kegawatdaruratan pada proses persalinan baik pada ibu maupun janin.Oleh karena itu,jika seorang ibu mengalami kehamilan dengan letak lintang harus segera mendapat penanganan dari dokter spesialis kebidanan.
3.2     Saran
Mudah – mudahan dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi kami penulis tetapi juga bagi pembaca.










DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, H. (Ed.). 2007. Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Bowes, W. 2006. Management of The Fetus in Transverse Lie. www. Uptodate.com





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar